Seorang anak kecil membuka lemari ibunya. Di sana dia menemukan sebuah keramik antik yang sangat indah. Dengan penuh semangat dia mengambil keramik itu untuk menunjukkannya pada sang ibu. “Mama… ini indah sekali…” Tepat di hadapan ibunya, keramik itu meluncur jatuh dari tangan sang anak. Pecah dan hancur berantakan. Dengan gemetar dan berlinang air mata sang anak menunggu ibunya membentaknya. Namun dengan penuh kasih sang ibu memeluk sang anak dan berkata, “Tidak apa-apa. Itu hanya tembikar biasa.. Ayo bantu Mama menyapunya…”
Tembikar
Terlalu gigih kucoba
Menjalani hidup ini dengan bermegah diri
Hingga suatu hari
Hidupku terlepas jatuh dari tanganku
Dan hancur berantakan di sekelilingku
Hancur
Aku menanti Allah
Membentakku dengan keras
“SUDAH KUBILANG..!”
Namun
Dia justru menghampiri
Ke tempat aku terjatuh
Dan memungut kepingan-kepingan itu
Lalu berkata,
“Jangan menangis.
Itu hanya tembikar biasa,
Hanya tembikar biasa.”
Sering banget kan, kita terpesona sama penglihatan duniawi. Hal-hal yang baik dan indah di mata kita. Kita bawa ke hadapan Tuhan, dan berikeras minta persetujuanNya,”Tuhan, ini sangat baik buat aku.”
Sampai satu ketika, kita terperosok, lalu hal-hal indah dan baik itu jatuh, hancur, berkeping-keping di kaki kita.
Guys, sadar gak sih, banyak hal dalam hidup kita, kerjaan yang bagus, tempat kuliah, rumah, kendaraan, bahkan cowok yang udah oke banget di mata kita, ternyata gak lebih dari “tembikar” di mata Tuhan. Bisa jatuh dan pecah kapan aja. Dan amazing-nya, bisa Dia gantikan kapan aja.
Jadi kenapa kita gak mulai belajar merelakan dan mengikhlaskan tembikar-tembikar yang udah jatuh dan hancur di kaki kita. Bawa ke hadapanNya, dan rasakan pelukannya,”Jangan menangis,anakKu. Itu cuma tembikar biasa. Cuma tembikar biasa.”
huhu…kk bisa g nulisny jgn terlalu menyentil aq..aq kan jd terharu..
Menyentil kenapa say :p ??