Para Mertua

Hari rabu yang lalu, ada partangiangan (kebaktian) wilayah di rumah. Seperti biasa, acaranya mulai 07.30 malam, tapi sampai 08.30 masih 3 pasang suami istri yang datang. Pendeta dan istrinya, Amang Baringin dan istrinya, Amang Sitompul dan istrinya. Mengisi waktu, mereka, para istri, saling bercerita. Inang Sitompul akan mengawinkan anak laki-lakinya bulan Oktober, mami akan menikahkan aku di bulan Desember, dan inang Simanjuntak memiliki sepasang anak yang telah memasuli usia siap nikah. Inang pendeta telah menikahkan sepasang anaknya juga. Karena merasa sudah “senior” dalam hal per-menantu-an, inang pendeta membagikan pengalamannya pada calon-calon mertua ini. Inti percakapan meraka yang kutangkap dari ruangan sebelah, adalah memiliki menantu laki-laki (hela) tidak terlalu berdampak pada psikologis sang ibu. Karena putrinya tak begitu ‘berubah’. Tapi memiliki menantu perempuan (paromaen) adalah hal yang berbeda. Inang Pendeta ini baru beberapa bulan memikahkan anak laki-lakinya. Dia bercerita, betapa hatinya ‘perih’ melihat anak laki-lakinya (bercengkrama?) bersama istrinya. Dia baru menyadari kalau anak laki-lakinya itu bukan miliknya lagi. Anak laki-laki yang dulu mau memeluk dan mencium dia sebelum tidur, sekarang pamit untuk masuk ke kamar bersama istrinya. Anak laki-lakinya yang dulu selalu meminta pendapatnya sebelum memutuskan sesuatu, sekarang lebih memilih untuk berdiskusi dengan istrinya. Hal ini yang secara tidak disadari menyebabkan para ibu menganggap paromaennya adalah ‘saingan’.

Aku menarik nafas. Terima kasih inang Pendeta. Itu sangat-sangat membantu, pikirku. Aku saja atau semua calon pengantin merisaukan hal ini. Hubungan dengan ibu mertua. Mungkin dalam ketakutan dan kegalauanku (halah!) selama ini lebih kepada this mother in law thing daripada hubungan pribadiku dengan Mr.Gift. Entahlah. Selama ini yang kudengar tentang hubungan ibu mertua dan menantu selalu saja hal-hal buruk. Mau bagaimanapun cantiknya sang menantu, bagaimanapun pintarnya mencari uang, bagaimanapun hebatnya dia memasak, mengurus rumah dan anak, selalu saja ada alasan buat sang mertua untuk ‘mencela’ nya. Bagaimana dengan aku? Dan yang lebih buruk lagi, nanti aku akan tinggal bersama dengan keluarga Mr. Gift dalam satu atap. Semua gerak-gerikku akan dipantau. Entahlah. Aku mulai tidak yakin dengan diriku dan keputusanku untuk menikah. Aku merasa semakin gila.

Ps. Telah dipublikasikan di Bride Wanna Be Diaries

5 Comments

Filed under The Mad Bride

5 responses to “Para Mertua

  1. Miss Lemontea

    me, gue gatel pengen kasih comment….secara gue tau dari dulu sejak elo udah ada gejala2 mo married, kayaknya ini yang jadi trigger nya elo stress….mudah2an abis baca comment gue, stress elo berkurang (dan semoga bisa cepet jadi kurusan….ditambah secret recipe yang akan dikirimkan A.S.A.P!)…..hehehe

    cara satu2nya ngadepin stress elo me, menurut gue: bersyukur…count your blessing……gokil ya kedengerannya , lagi rusuh gundah gulana gulandig disuruh bersyukur….

    Bersyukur, bahwa elo dikasih “blessing” bisa nemu, dan bakalan married sama orang yang pilihan elo, saling cinta berdua. Dalam umur yang relatif muda. Gak banyak yang punya luxurious previlege or blessed life kayak elo…itu yang terpenting….apa pun masalahnya, elo musti yakin, bahwa you’ll be fine di samping dan bersama sama Mr.Gift.

    Bersyukur, elo masih diterima baik2 dengan penuh kasih sayang, welcoming, dan masih disetujuin (based on your other posting di ladang lo yang satu lagi)….so far, mother in laws to be nya elo, bukan tipe2 yang impossible to deal with, masih sama2 orang batak, setidaknya sedikit banyak bisa ngertiin elo. Masih banyak menantu perempuan yg lainnya “dimusuhin, disinisin” walaupun ujung2nya jadi nikah juga. Gak sedikit juga yang kayak gitu, tapi jadi kesayangan besok2nya.

    Bersyukur, elo masih diberi kesempatan sama Tuhan, mendengar percakapan di atas yang elo critain, kalo gue jadi elo, gue bakalan take it as “God’s beautiful hints/direction” buat kegalauan hati elo…elo dikasih kesempatan buat ngeliat, tau, siap2, bagaimana nanti elo bisa bersikap /nge handle situasi, dengan cara elo bisa bersikap more understanding, lebih banyak mengalah.

    Masalah elo, ketakutan elo “to be perfect” in everything closed your eyes and your heart. Nobody’s perfect, me. Not even me or you, Mr.Gift, including Mr. Gifts’ mom or siapa aja makhluk di dunia ini yang masih ciptaan Tuhan dan bukan ciptaan Tuhan pastinya. Back to principal yang pasti banget elo udah tau, married itu commitment buat nerima satu sama lain apa adanya. (including keluarga, sperti banyak orang2 batak meneguhkan dalam prinsip perkawinan tapi pelaksanaannya kurang ..hehe,…)…jadinya, just be yourself. Selama elo udah berusaha and do your best, God will take care of the rest. Gue tau, elo orangnya kan juga bukan tipe2 yang gak bisa dibilangin, gak mau belajar sama sekali……yakin and pede sedikit donk sama diri elo sendiri.

    Kalo ketakutan elo buat “to be perfect” masih elo gedein juga, gue yakin, ntar bakalan banyak masalah yang sebenernya gak penting, tapi jadi ribed, apalagi elo bakalan tinggal di rumah mertua.
    Believe me, kalo tujuan or intention elo cuman “to be perfect” supaya bisa jadi kebanggan mertua and suami, itu cuman enough for feeding your ego and pride. (or theirs). Kayaknya jadi udah gak bener lagi kan, tujuan elo to be a better wife, or daughter in law, just to make other people happy.

    Lagian, makes everybody happy is impossible, believe me, been there and do that..since i’ve been doing it for most of my entire life. Bikin cape and bikin frustasi, gak ada bagus2nya buat siapa2 juga. It wont be enough no matter how hard you try!! Manusia selalu asking for more. Tuhan aja masih banyak disalah2in sama manusia (i’m on the list sometimes), so, you make the decision about “trying to be perfect” issue here.

    Yang penting make God happy, then everything else will fall into their own places, i believe.

    Just show them you doing it because you care, you love, and you respect. And paling penting: ketulusan elo. Sincerely. Semuanya yang cuman buat kebanggan, pride and feeding ego, gak bakalan baik jadinya.

    Sorry bukan maksud mau nyela, or giving you harsh advice, or niat buat nge abuse or against your blog, cuman sebagai temen walaupun belom pernah ketemu, gue concern banget sama sikon hati and pikiran elo and top of all i’m sooo sad that you still dont realize how lucky you are, womannn!!!!You have so so so so much BIG BLESSING that i don’t have and i will never know if i could have it or not, ever.

    But i always happy reading your blog, and happy for you, and hopefully you dont take this comment with hard feeling….

    Take care and GBU
    Unang setress setress muse ho, boru hutadjulu!!!!

  2. threshutasoit

    Selamat ya Imme udah mo nikah ya…
    Aku cuma mo kasih dukungan aja biar kamu mantap. Kalo orang mo nikah ragu2, itu wajar aja karena akan banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan sesudahnya. Kalo masih single, bangun & tidur suka2, nantinya gak bisa lagi .. apalagi tinggal ama mertua..🙂. Kongkow2 sm temen so pasti gak sebebas dulu dan banyak lagi deh yang kamu mesti siap korbanin untuk lompat kedunia baru ini.
    Tapi tak usah terlalu dipikirkan, selama kamu yakin calon-mu adalah orang yang tepat buatmu, jalanin saja. Kalo soal hubungan dengan mertua, kebetulan aku dapat mertua yang baik. Walaupun tidak tinggal sekota beliau terkadang datang dan bisa menetap sampai setahun di rumahku, tapi kami baik2 aja tuh, gak pernah berantem kayak di sinetron2 itu..🙂.
    Aku cuma bisa kasi satu masukan, tampillah apa adanya di depan mertuamu dan jangan malu minta diajarkan tentang apapun. Apapun pendapatmu tentang mertuamu nantinya (tentang hal2 yang tidak kamu sukai darinya), sebaiknya jangan sampaikan kepada suami, karena bagaimanapun dia adalah ibunya. Satu lagi, lebih cepat kalian bisa mandiri (pisah rumah dari mertua) sebenarnya lebih baik karena dalam berumahtangga pasti selalu ada masalah kecil ataupun besar yang sebaiknya diselesaikan sendiri oleh kalian tanpa melibatkan orang lain sekalipun itu mertua atau orang tua.
    Ok, selamat mempersiapkan pernikahan ya…

    Salam,
    Theresia Hutasoit

  3. imme hutajulu

    Makasih ya bwt eda2 ku yang udah peduli sampe rela ngasih waktunya nulis komen di sini…
    Aku tau harus berjuang…
    “Kamu mesti kuat” kata Mr.Gift waktu aku pernah nelfon dia dalam keadaan terisak-isak karena hal ini…
    Caiyooo imme….
    Caiyooo perempuan batak…
    Teringatnyalah dulu… parhuta-huta ya kita bertiga…

  4. Janpieter Siahaan

    Salam kenal lebih dulu ya to….

    Menikah adalah menyatukan dua kepribadian yang saling berbeda. Para ahli mengatakan, dua manusia yang berasal dari satu indung telurpun pasti berbeda sifat dasarnya. Untuk itu memahami perbedaan dan mencari persamaan itulah yang menjadi alasan untuk komit membentuk suatu rumah tangga. Rumah tangga batak adalah suatu perpaduan dua keluarga besar. Untuk ini bersiaplah mengambil peran aktif menyatukan dua keluarga besar yang berbeda banyak kemauannya. Ada yang kepengin aktif di punguan, ada yang ingin aktif dikunjungi dan ada pula yang tidak peduli. Tinggal ito dan suami nantinya memadukan unsur cita-cita sebelum berumahtangga. Pengalaman saya… cobalah untuk mengerti karakter orang kita batak. Kita hidup dinamis dan terbuka. Aktiflah di punguan Gereja, Rt, Marga dan parsahutaon sepanjang tidak mengganggu pekerjaan pokok kita. Demikian sedikit koment sebagai tahap awal dari saya. Mauliate.

  5. rapmengkel

    ntar kalau imme dah menikah, pasti ada penyesalan : ” koq g dari duluuu…???”
    he he he, selamat deh.
    dah baca Tuty Adhitama di :

    http://rapmengkel.wordpress.com ?

    mertua vs menantu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s