Pujian terindah

Di gerejaku ada beberapa kelompok koor. Dari semua kalangan. Setiap kelompok memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ada yang yang bermusik menggelegar, ada yang bersopran menggelegar, ada yang, ehem, ‘sanggul’ menggelegar, ada yang suka-suka jumlah anggotanya, ada juga yang bikin ngantuk.

Kelompok koor Ina Hanna, adalah kumpulan para janda, yang sebagian besar sudah tua dan tidak terlalu berada kondisinya. Yah, janda kaya masih banyak urusan gitu lho dibanding masuk kelompok Ina Hanna. Dalam kondisi yang sangat sederhana, kelompok ini berusaha sesering mungkin tampil mengisi ibadah Minggu dan acara-acara Gereja yang lainnya. Mereka bernyanyi dengan berbagai keterbatasan, berpenampilan sederhana, tak ada yang bersuara dominan, tanpa ada yang mengiringi (kecuali kalau Hendro yang lagi jadi organist, tanpa pernah mendengar sebelumnya, dia udah bisa mengiringi hanya dengan feeling), tampak kontras dengan kelompok koor yang di baris sebelahnya. Dengan kuping awam seperti aku, mendengar kelompok para janda ini bernyanyi bukan suatu hal yang kutunggu-tunggu. Berbeda kalau Koor Ama yang bernyanyi, aku mencoba menerka-nerka apa Amang Desi lagi yang jadi soloist-nya, atau kehebatan sopran Koor Ikogenia yang kadang membuatku iri. Aku lebih suka membolak balik buku acara atau malah ngobrol daripada mendengar dan menyimak  para janda itu melantunkan pujiannya.

Suatu malam, di acara Parheheon Ama, aku dan suamiku ikut kebaktian. Kami duduk di barisan belakang. Hampir semua kelompok koor hadir. Acara mulai berjalan, lagu demi lagu, ada semacam pertunjukan di layar, koor demi koor mulai benyanyi sebaik yang mereka bisa. Sampai tibalah giliran Koor Ina Hanna. Mereka berdiri. Aku membuka tas mencari sesuatu untuk kukulum. Mereka mulai bernyanyi. Aku mencari kesibukan. Mereka tiba di refrein.

“…sampai pada masa tuamu…”

Aku tak hapal liriknya. Tapi aku tau mereka menyanyikan Yesaya 46:4,

” Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”

Hatiku bergetar. Para janda, menjalani hidup sendirian tanpa suami, beban hidup dan anak-anak menjadi tanggung jawab mereka seorang diri. Tua, beruban, lemah, rapuh, tak punya apa-apa, bernyanyi dengan lantang, bahwa mereka digendong Yesus. Bahwa Tuhan bukan hanya ada untuk kami orang muda, tapi juga para lanjut usia. Tuhan tak pernah melupakan mereka.

Aku terharu. Sungguh sungguh terharu. “Ini pujian terindah malam ini…”, bisikku pada suamiku. Yah, ini memang indah. Lagu yang sama takkan seindah ini bila para pemuda naposobulung yang menyanyikannya, atau kelompok koor yang lain.

Sejak itu, aku sudah mendengar Ina Hanna membawakan lagu itu berkali-kali, walau mereka bernyanyi dengan kondisi yang sama, aku masih menganggap ini adalah pujian mereka yang terindah.

2 Comments

Filed under Picture of Me

2 responses to “Pujian terindah

  1. Feliciano

    stiap dgr lagu2 yg dinyanyikan inna hanna aku dan keluarga slalu berkelakar, “lagunye sedih2 muluu” tp stlh baca ini aku diingatkan lg bahwa ya, mereka sederhana dan tampak merana tp sbenetulnya mrk paling berbahagia krn bs meyakini apa yg mrk yakini melalui pujian..🙂

  2. lagu ini juga adalah lagu koor kami, ina koor hkbp lippo cikarang, dan sy suka bgt dgn lagu ini…baru 1 x kami nyanyikan sejak saya msk ina koor…sy sll menunggu kpn lagi akan km nyanyikan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s