Keracunan genset

Hari ini giliran kantorku menjadi bagian dari upaya PLN dalam mengatasi minimnya pasokan listrik. Alias MATII LAMPUU…. Tanpa pemberitahuan, tanpa aba-aba, tanpa bukaan 1 sampai 10 sebelumnya. Alhasil genset harus dijemput dulu ke rumah si boss. Setelah berlama-lama bergerah-gerah ria berdua dengan Pak Yasmar, akhirnya hampir waktunya shalat Jumat, berulah salah satu AC di kantor bisa dinyalakan.

Dengan kondisi sendirian di meja ticketing, tanpa mesin fotocopy, printer tidak bisa sharing, telepon berdering tanpa henti, banyak email yang harus dibalas, aku tak menyadari adanya kelainan dalam udara di ruangan kantor. Aku baru sempat makan hampir setengah 3 sore. Dan ajaibnya, aku berhasil menghabiskan seluruh porsi di piringku. Setelah lebih dari seminggu terakhir ini selalu ada sisa di piringku, tak peduli sesedikit apa nasi kusendokkan ke piringku.

Menjelang jam lima, aku mulai merasa pusing. Yah, aku adalah pelanggan setia dari penyakit itu, jadi kukira ada hubungannya dengan waktu makan siangku yang tak sesuai jadwal itu. Boss ku mulai mengeluh bau. Tak lama dia juga mengeluh mabok. Sepertinya aku juga tahu apa yang dirasakannya. Kepalaku sakit luar biasa, mual dan ingin muntah. Setibanya di mobil, AC mobil dinyalakan maksimal. Aku butuh udara. Aku melihat novel boss ku yang hanya bisa kubaca saat di mobil. Dengan bebalnya aku tetap mengikuti rasa penasaranku untuk mengetahui kelanjutan ceritanya. Sebenarnya aku tak begitu bisa menbaca di dalam objek yang bergerak. Pasti akan pusing. Tapi kupikir bisa sesakit apalagi kepalaku sekarang. Seturunnya dari mobil, kepala bagian belakangku berdetak. Berdenyut. Ketika aku harus melakukan lompatan kecil, isi kepalaku berguncang… Semakin lama makhluk di dalam kepalaku menendang semakin kencang. Aku mau muntah… Kukuatkan diri untuk tiba di rumah dengan selamat…

Ngomong-ngomong soal kuat, khotbah yang kudengar kemarin malam adalah bagaimana menjadi kuat. Somehow aku merasa khotbah itu untukku. Seringkali aku merasa lemah, tak berdaya, sendirian. Tapi aku tahu, banyak hal yang tak bisa kuubah. And I have to deal with it. I have to be strong. Kuat untuk suamiku, kuat untuk keluargaku, kuat untuk diriku sendiri. Kata sang pendeta, jangan kagumi gedung yang bertingkat puluhan, tapi kagumilah pondasinya. Aku mau jadi pondasi, aku mau jadi leher untuk kepala keluargaku. Aku mau, Bapa….

Eh, jadi ngelantur. Sekarang aku ingin minum susu bendera coklat hangat, tidur dan muntah. No, muntah dulu baru tidur, atau muntah dulu baru minum susu lalu tidur? Entahlah, yang jelas ayam goreng siang tadi ingin keluar…

Genset

Leave a comment

Filed under Hidup akhir-akhir ini, Remeh Temeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s