Berkunjung Ke Rumah Sahabat

Aku melangkah melewati gerbang itu. Taman yang indah,pikirku. Sangat indah, tapi ada yang unik dengan selera Orang Ini. Aku tiba di pintu depanNya. Ketika aku akan mengetuk, pintu itu sudah dibuka dari dalam.

“Hai.”, sapaNya. “Aku sudah menunggumu. Ayo masuk!”

Aku telah berkali-kali berbicara denganNya, sering kali berkirim-kirim surat, tapi baru sekarang melihat sosokNya. Dia memiliki mata dan senyum terindah yang pernah kulihat. Sangat menenangkan.

“Akan kubuatkan kopi. Duduklah dulu.”

Aku melihat sekeliling. Rumah kecil yang indah. Sederhana tapi hangat. Aku melangkah lebih jauh ke ruangan lain. Ini pasti ruang keluarga. Banyak sekali photo-photonya. Aku memperhatikan photo di dinding terdekat. Ini… Ini aku… Kuperhatikan photo di atasnya. Itu juga aku… Aku berputar ke sisi lain Ini juga… ini juga aku… Semua photo di ruangan ini photo-photoku.

Ini photo aku dan mami waktu aku belajar jalan.

Itu photo aku menari kipas waktu TK.

Lalu, hei, itu aku dihukum Suster Kepala Sekolah di kelas 6.

Aku menangis, aku tertawa, aku tersenyum, semua tentang aku ada di sini. Sebuah lemari di sudut ruangan menarik perhatianku. Lemarinya sedikit terbuka. Aku mencoba melihat isinya. Puluhan, bukan, ratusan kotak dibungkus kertas kado. Aku mengambil salah satunya, dan membaca label di atasnya. Untuk Imme di ulang tahunnya ke 25. Aku ambil kotak lainnya.

Untuk Imme di Natal 2007,

Buat Imme di hari pernikahannya,

Untuk Imme di awal tahun 2010,

Imme di hari Senin,

Imme di mendung sore hari,

Untuk Imme di purnama berbintang,

Buat Imme di pagi berkabut…

Ratusan paket hadiah untukku. Yang pasti cukup sampai akhir hidupku. Mataku menangkap sesuatu di bagian bawah lemari. Tumpukan surat. Puluhan surat yang pernah kutulis untukNya. Dia menyimpannya. Ada apa ini?

Mengapa Dia melakukan ini semua?

Apakah aku sepenting itu bagiNya?

Apakah benar yang dikatakan orang itu kemarin?

“Dia sangat menyukaimu. Aku pernah melihat photomu di dompetNya. Kita takkan menaruh photo sembarang orang di dompet kita bukan? Dia pasti sangat sangat menyukaimu.”

Sebenarnya itu alasanku ke sini. Ingin bertanya padaNya. Apa benar Dia menyukaiku? Menyayangiku? Apa aku begitu berarti untukNya?

“Hei… kenapa melamun? Ayo ke sini.”, seruanNya membuyarkan lamunanku. “Ini kopinya, pakai susu bukan krim, gula 3 sendok.” Dia meletakkan secangkir kopi di hadapanku.

“Bagaimana Kau tahu selera kopiku?”

“Tentu saja Aku tahu. Aku tahu semua tentangmu. Aku kan mengasihimu.”

Dia mengucapkan itu dengan ringan, seolah-olah sangat wajar bagi Dia untuk mengasihiku. Entah mengapa aku bahagia mendengar kata-kata itu langsung dari mulutNya.

“Baik,Cantik, kemarin kamu bilang ingin menanyakan sesuatu. Ayo tanya saja.” Aku tersenyum. Semua yang aku lihat dan dengar hari ini sedah lebih dari cukup.

“Aku mau bertanya, taman dandelion di depan indah sekali. Bagaimana mengurusnya?”

 

PS. Terinspirasi dari salah satu SMS teman yang mengucapkan selamat Hari Minggu kemarin.

Leave a comment

Filed under From Old Blog, Picture of Me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s