Jika Tuhan tahu

Suatu sore Tuhan mengajakku berjalan-jalan. “Kita mau ke mana Tuhan?” tanyaku seraya mengenakan sepatu. “Sudah, ikut saja…”, sahutNya sambil tersenyum berahasia.

Kami berjalan bergandengan tangan menyusuri jalan di sekitar rumah kami. Kami saling bercerita, sesekali tertawa, bercanda sepanjang jalan. Membicarakan pohon-pohon, sarang burung, awan, pelangi, bunga liar, kumbang, juga ehem, nilai matematika ku yang agak menurun.

Sesekali kami berpapasan dengan orang-orang yang kukenal. Tante Lisa yang baru pulang dari kota, tersenyum menyapa kami. Paman Jo yang sedang merapikan rumput di halaman depan rumahnya, Nenek Debby juga sempat menghentikan kami dan bercerita tentang rheumatiknya yang sudah membaik. Kami juga bertemu Adam, teman sekelasku yang sedang bermain sepeda. Sepeda baru tampaknya, masih mulus dan mengkilap. Sepeda yang bagus, pikirku. Tante Lynn menggendong Robbie kecil yang sedang tertawa-tawa memainkan balon. Dua anak perempuan sedang berkejar-kejaran dengan sepeda mereka.

Semakin kami jauh berjalan, semakin banyak orang yang berlalu lalang menggunakan sepeda. Bermacam-macam jenis, ukuran dan warnanya. Mataku berbinar melihat sepeda yang dinaiki salah seorang anak perempuan seumuranku. Warnanya ungu mengkilap yang cerah, dengan keranjang mungil di depannya. Bel nya berbentuk boneka cantik. Aku selalu memimpikan memiliki sepeda seperti itu suatu saat nanti.

“Kita sudah sampai. Kita duduk di sini saja yah.”,ujar Tuhan membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk dan mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Kami berada di sebuah taman bermain. Penuh dengan anak-anak dan orang dewasa yang bermain sepeda. Seorang anak sedang diajari ayahnya naik sepeda, sepasang pemuda sedang jalan bersisian sambil menuntun sepeda mereka masing-masing. Di ujung taman ada sekelompok remaja yang sedang mendengarkan musik dengan sepeda-sepeda yang terparkir di samping mereka.

“Wah, lihat, ada sepeda tandem !!”, aku berseru. 2 orang wanita muda sedang menaiki sebuah sepeda tandem model terbaru. Bagus sekali. Gagah tapi tetap terlihat manis. “Pasti menyenangkan kalau kapan-kapan kita naik sepeda tandem bersama-sama.”, Tuhan berujar. “Iya. Pasti asyik !”, aku tersenyum menbayangkannya. Yah, pasti menyenangkan bisa bersama-sama bermain sepeda seperti mereka. Pasti menyenangkan bisa naik sepeda ke sekolah, atau bermain bersama Rain dan Ivy yang telah terlebih dahulu memiliki sepeda.

Aku menghela napas. Aku sangat ingin punya sepeda. Aku tak mau ada di tempat ini lebih lama lagi. Sedih dan sesak rasanya melihat sepeda-sepeda cantik melintas di depanku. Aku menoleh kepada Tuhan. Ternyata Dia sedang mengamati wajahku. Kurasa Dia sempat menangkap tatapan iri dari mataku.

“Kau ingin pulang?”, tanyaNya lembut. “Iya Tuhan, aku capek hari ini.”, jawabku berbohong. Walaupun aku tahu tak ada gunanya aku berbohong padaNya. Kami berjalan bergandengan. Seringkali aku tak konsentrasi pada pembicaraan kami, karena pikiranku masih dipenuhi dengan sepeda baru.

Malam harinya, saat aku hendak tidur, Tuhan masuk ke kamarku untuk mengucapkan selamat malam. “Selamat istirahat, Mungil.”, ujarnya lembut sambil menyelimutiku. “Hm Tuhan, bolehkan aku bertanya?”, tanyaku meminta izin. Dia menatapku geli,”Tentu saja. Apa yang mengganggu pikiranmu, Cantik?”. Aku ragu untuk menanyakannya. Kuangkat wajahku dan melihat senyumNya yang penuh kasih.

“Tuhan…”, tanyaku pelan.

“Iya…”, jawabnya seraya mengelus kepalaku.

“Jika Engkau tahu aku begitu menginginkan sebuah sepeda, mengapa kau mengajakku ke taman yang penuh dengan orang-orang bersepeda?”, tanyaku.

“AnakKu yang sangat kukasihi, tak perlu semua yang Kulakukan dalam hidupmu, harus Kau mengerti. Ada saatnya kau hanya harus percaya saja padaKu. Satu yang pasti, Aku akan selalu bersama-sama denganmu. Tak peduli kau memiliki sepeda atau tidak. Atau mobil atau kalau kau naik helikopter sekalipun, Aku akan selalu bersamamu.”

“Benarkah?”, tanyaku dengan mata berbinar.

“Tentu saja, kalau kau punya helikopter, siapa yang bisa mengemudikannya selain Aku…”, sahutNya sambil tertawa.

“Hahaha… Benar juga yah…”. Kami tertawa bersama.

“Sudah malam. Sebaiknya kau tidur sekarang.”, Dia mengecup keningku. Tuhan berjalan keluar kamar dan mematikan lampu.

“Tuhan…”, panggilku sebelum pintu tertutup.

“Iya…”

“Terima kasih. Aku bangga memiliki Tuhan sepertiMu.”

Tuhan tersenyum dan menutup pintu kamarku.

Selagi aku terlelap sambil memimpikan bermain sepeda, Tuhan sedang di gudang, mengikatkan pita ke sebuah sepeda mungil yang cantik. Yang akan diberikanNya di hari ulang tahunku beberapa hari lagi.

 

Leave a comment

Filed under Hidup akhir-akhir ini, Kehidupan rumah tangga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s