Suatu Senja Di Ladang Dandelion

April 2007

Senja hari di puncak bukit. Angin sejuk mengurapi tubuhku dan membawa wangi bunga dari bukit-bukit sekitar. Awan seputih kapas berarak menuju barat. Ke arah lautan jingga.

Sekarang sudah bulan april lagi. Tanpa menolehpun aku tahu kamu mengangguk di sampingku.

Kamu ingat tempat itu? Aku menoleh dan mendapati kamu tersenyum manis, seperti yang biasa kamu bagikan pada dunia. Aku kembali menatap ladang dandelion di kaki bukit ini. Semilir angin mengantarkan ratusan serpih kecilnya ke dunia baru di luar sana.

Saat ini tahun lalu kita ada di sana. Semburat jingga langit senja tampak indah dari sana. Menanti bulan, memilih bintang, dan melantunkan senandung kecil.

Paskah juga di bulan ini. Kamu ingat, hari Paskah yang lalu, kita juga berada di sana. Membahas para gadis yang suka berdiri di pinggir jalan, atau berdebat tentang jenis anjing mana yang paling lucu.

Kalau kamu masih ingat, ulang tahunku juga ada di bulan ini. Saat itu kita juga ada di sana. Saat alam semesta terlelap, kita berbagi malam. Berbagi cerita dengan bulan, menari dengan gemintang. Kamu menemaniku menunggu pagi. Menanti sinar keemasan jatuh di helai rerumputan. Lagi-lagi kita berdebat. Namun kali ini topiknya tentang ladang dandelion ini.

Aku tersenyum dalam diam saat sejuta potongan kenangan melintas cepat di benakku. Kamu tetap di sampingku membisu.

Kamu masih ingat? Bulan april lalu ladang ini penuh dengan senyumanmu. Penuh dengan ratusan kupu-kupu yang entah sejak kapan menyukai tempat ini. Kupu-kupu yang sama yang mengisi relung di dasar perutku setiap kali bayanganmu jatuh di ladang ini, setiap kali kamu tergelak, setiap kali kamu menatapku.

Suaraku berganti gumaman lirih.

Kamu sudah lama tidak ke sana. Yah, kamu tidak akan pernah ke ladang dandelion itu lagi. Seindah-indahnya ladang dandelion di kaki bukit, taman bunga matahari di puncak bukit seberang tetap jauh lebih indah bagimu. Memang tak ada yang bisa menandingi keajaiban senyum-senyummu selain keindahan bunga-bunga kuning itu.

Aku terdiam lagi, bagiku seribu senyum bunga matahari sekalipun takkan mampu menyamai satu senyum ajaibmu.

Bagaimanapun juga, aku menoleh dan tersenyum, bagiku dan ladang dandelion ini, kamu tetap lelaki dengan senyum ajaib kami.

Senyum indah itu mengembang di wajah tampanmu. Puas menatap senyum itu untuk terakhir kali, aku berdiri.

Terimakasih untuk sore ini.

Aku berjalan menuruni bukit. Menuju ladang dandelion. Ladang yang masih merindukan lelaki di puncak bukit itu.

Oh ya.

Aku teringat sesuatu dan membalikkan tubuh. Menghadap wajahmu yang indah berlatarkan langit senja.

Satu hal lagi.

Jangan undang aku ke pernikahanmu.

Aku berbalik, membalas dekapan ladang dandelion yang menyambutku di suatu senja di bulan april.

 

3 Comments

Filed under From Old Blog, Picture of Me

3 responses to “Suatu Senja Di Ladang Dandelion

  1. imme hutajulu

    Kenapa masih bergetar kalo baca tulisan ini lagi yah ??? ^-^

  2. ……diksinya bagus, kenangan memang indah dan kadang membuat kita sedih. Seandainya ada Dandelion yg tumbuh di Indonesia…

    Salam kenal ^^/

    Imme : Salam kenal juga Pak Buz. Dandelion ada di semak belakang rumah bapak kok… :))

  3. Fave bangeet deh baca story atu ini…^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s