Hiking bersama Tuhan (Part 1)

Suatu hari aku dan Tuhan memutuskan untuk pergi hiking ke sebuah bukit. “Di atas sana ada taman bunga yang sangaaaat indah. Kau pasti menyukainya.”, ajakNya saat itu. Kami berangkat pagi-pagi sekali agar tidak kemalaman pulangnya.

“Tuhan, bunga apa saja yang ada di atas sana?”, tanyaku mulai terengah-engah karena jalan yang mendaki.

“Ada mawar berbagai warna, anyelir putih, aster kuning dan biru, carnation, lilac, berbagai jenis anggrek, teratai, dan calla lily yang cantik. Bunga mataharinya banyaaak sekali.”, jawabNya bersemangat.

Aku terdiam. Merasakan ada yang kurang.

“Dandelion yang paling banyak.”, tambahNya, membaca pikiranku. Aku nyengir.

“Kenapa Kau sangat menyukai dandelion?”, tanyaNya.

“Entahlah,Tuhan. Kalau aku mengibaratkan diriku sebagai bunga, sepertinya dandelion yang paling mirip denganku.”, jawabku tak yakin.

Dia tersenyum,”Oh ya? Coba jelaskan.”.

Aku menarik napas panjang sebelum melanjutkan,” Aku tidak cantik. Eh, maksudku aku cantik, tapi tidak secantik mawar atau anggrek. “.

Aku melirikNya, Dia hanya mengangguk-angguk dan tersenyum.

Aku melanjutkan,” Aku tidak wangi seperti melati atau kenanga. Aku tak seceria senyuman bunga matahari. Aku tak berada di pot-pot cantik, hanya di tengah semak di pinggir jalan. Aku juga tak semisterius Calla lily.” Aku merendahkan suraku dan menyipitkan mataku saat mengatakan kalimat terakhir, mencoba membuat kesan misterius. Kami tertawa.

“Hanya itu?” tanyaNya.

“Yah kurasa begitu kurang lebihnya.”, jawabku sambil mengangkat bahu.

“Kalau dandelion tertiup angin, bagaimana?”,tanyaNya

“Benihnya terbang.”

“Ke mana?”

“Ke mana saja.”

“Persis. Kau juga bisa seperti itu. Sebarkan sesuatu pada dunia. Sebarkan kebaikan, sebarkan cinta, sebarkan kedamaian, sebarkan doa. Berikan sesuatu sesuai porsimu. Lalu kau bilang tadi tempatnya dandelion adalah di tengah semak. Semak itu tidak indah, sayang. Ditengah sesuatu yang tidak indah, kau bisa menjadi sesuatu yang indah. Itu hebat kan? Dan lagi, dandelion adalah bunga liar, tidak ada yang menanam, menyiram, atau memberinya pupuk. Tapi bisa tumbuh, berkembang dan bertahan. Hanya dengan hujan dari langit dan makanan di tanah saja. Kau juga pasti bisa seperti itu, mandiri, tidak bergantung pada orang lain untuk membuatmu berkembang dan bertahan. Cukupkanlah dirimu dengan berkat dariKu.” Dia tersenyum lembut menatapku.

Aku terpana. Saat ku sadar, ternyata mulutku terbuka. Aku langsung menutupnya dan menarik napas dalam-dalam. Ternyata dari tadi aku menahan napasku.

“Aku seperti itu?” tanyaku tertahan,”MenurutMu aku mampu seperti itu?” , tanyaku tak percaya.

Dia tertawa, seakan tak percaya dengan pertanyaanku.

“Kau ini bagaimana sih? Tentu saja bisa. Kau kan anakKu.”, jawabNya sambil mengelus kepalaku,

“Aku ‘kan selalu bersamamu, Mungil”, lanjutNya.

Kami tertawa bersama, bergandengan tangan berjalan menuju taman bunga itu.

“Dan kau tahu,Mungil, di antara semua bunga indah di atas sana, Kurasa aku paling menyukai dandelion…..”

1 Comment

Filed under Hidup akhir-akhir ini, Kehidupan rumah tangga, Picture of Me

One response to “Hiking bersama Tuhan (Part 1)

  1. dwidaniarti

    Reblogged this on Dani Notes.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s