Natal di suatu malam…

Agak gerimis senja ini. Kulangkahkan kaki menuju rumah itu. Rumah yang cantik dengan lampu berwarna warni di sekelilingnya. Terdengar suasana ramai. Semakin dekat, semakin jelas terdengar banyak suara-suara dari arah rumah itu.

Aku mengintip dari satu jendela yang terdekat. Tampak seorang wanita dengan troli belanjanya. Sibuk memilih barang di rak di depannya sambil berkali-kali melihat daftar yang dipegangnya. Tak jauh darinya ada sekelompok remaja sedang membungkus tumpukan hadiah. Seorang dari mereka berkata,”KFC buat anak-anak sudah kau pesan kan Lin? Sudah dikasih uangnya sama Amang Batubara ?”.

Aku beringsut ke jendela yang lain. Sebuah keluarga, bapak, ibu dan seorang anak kecil sedang menghias sebuah pohon. Sang istri berkata pada suaminya,” Habis dari Gereja kita ke rumah Kak Juni ya Pa. Semuanya ngumpul di sana.” Sang suami mengangguk dan mereka meneruskan kegiatan mereka. Di sudut ruangan ada seorang ibu-ibu setengah baya berkebaya nan cantik dan bersanggul rapi sedang berbicara dengan nada tinggi di telepon,” Apa? Dekornya belum selesai juga? Kalian ngapain saja sih ? Tamu-tamu dari gereja lain akan sampai sebentar lagi…”

Aku berjalan melihat dari jendela yang lain. Sekelompok orang sedang duduk di sebuah meja bundar. “Jadi villa ini harus kita DP dulu. Nanti soal busnya biar Bang Tagor saja yang urus…”, sepertinya mereka sedang berdiskusi. Lalu ada seorang wanita muda yang sedang bingung melihat tumpukan baju di depannya. Semua masih berlabel harga. Sesekali dia mengambil salah satu baju, dan mematut dirinya di depan kaca.

Dari jendela yang lain, terdengar suara yang merdu. “Malam kudus.. Sunyi senyap..”. Aku melihat banyak orang memegang lilin dan bernyanyi bersama. Tak lama kemudian mereka saling bersalam-salaman dan tertawa-tawa. Banyak orang berkumpul bersama untuk makan. Banyak sekali makanannya. Bahkan minuman keras. Di setiap sudut terlihat orang tertawa. Anak-anak kecil berkejaran sambil memegang bungkusan kado.

Aku sudah sampai di depan rumah tersebut. Aku duduk di tangga kecil di depan pintu. Mereka bilang ini hari ulang tahunKu. Tapi tak ada yang mengajakKu masuk dan bergabung dengan mereka. Lamat-lamat terdengar nyanyian dari dalam rumah,” Selamat-selamat datang Yesus Tuhanku…”.

Aku masih berharap pintu itu akan terbuka untukKu.

Image

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s