Tuhan dan Istana Pasir

Siang ini aku dan Tuhan pergi ke pantai. Di hari panas terik ini, aku dan Tuhan akan mengikuti lomba membuat istana pasir.
Banyak sekali anak-anak lain yang berpartisipasi dalam lomba ini. Pantai yang biasanya sudah ramai, kini semakin ramai dipadati pengunjung.

Kami memilih tempat untuk kami membangun istana pasir kami. Aku menyiapkan ember dan sekopku.
Ketika lomba sudah dimulai, aku buru-buru mengambil air dari tepi laut. Membasahi beberapa bagian pasir untuk kubentuk.
Tuhan yang berdiri di belakangku, bertanya,”Istana seperti apa yang ingin kau bangun?”
“Hmmmm…” aku bergumam sambil berfikir. Pasti aku sudah punya bayangan akan seperti apa istana pasir impianku.
“Yang besar, yang mewah…”
“Kokoh, banyak menara…”, aku menambahkan tanpa menghentikan tanganku bekerja.
“Dan harus cantik…” lanjutku dengan senyum.
Tuhan mengangguk-angguk mendengarkanku. “Kalau begitu, kau harus membuat pondasi yang kuat. Kalau salah membuat pondasinya, istanamu akan hancur sebelum selesai. Dan kau tak ada waktu untuk mengulang lagi dari awal!” , saran-Nya.
“Ya, aku tahu Tuhan. Aku sudah banyak baca tentang cara membuat istana pasir yang baik. Aku rasa aku bisa kok.” , ujarku terdengar mantap.

Pondasi harus kuat. Harus kokoh. Kuat. Kokoh. Aku mengulang-ulang dalam hati. Semakin aku mencoba mengingat-ingat teori-teori yang pernah kubaca, semakin aku merasa tak mampu menjalankannya.
Kalau airnya kurang, pasirnya bisa buyar, bangunannya bisa runtuh. Tapi kalau airnya kebanyakan, pasirnya akan sulit dibentuk.
Tanganku mulai gemetar.
Tidak. Tidak boleh begini. Aku harus berhasil. Aku bisa. Tapi aku takut salah. Aku tak bisa mundur lagi untuk memperbaikinya. Bagaimana ini? Otak dan tanganku entah kenapa tidak mau kerja sama.

Di tengah ketakutanku, aku menoleh ke belakang.
Astagaaaa… aku kenapa sih…
Aku satu tim dengan Arsitek terbaik yang pernah ada. Dan aku malah memusingkan pondasi kecil ini. Dengan malu-malu, aku menyodorkan peralatanku kepada Tuhan.
“Tuhan, aku membutuhkan Engkau dalam membuat pondasi ini.”, ujarku. “Eh, tidak, aku membutuhkan-Mu dalam membangun istana pasir ini..”, ralatku cepat.
Tuhan mengambil peralatan dari tanganku dan berkata,”Kupikir kau takkan pernah minta tolong..”
Aku hanya bisa senyum malu.
Kami bekerja sama membangun istana impian kami. Hm sebenarnya sih, bisa dibilang Tuhan yang membangunnya.
Setelah waktu yang ditetapkan usai, istana pasir kami sudah jadi. Dan jauh lebih hebat daripada yang ada di pikiranku sebelumnya. Luar biasa kokoh dan mewah. Menara-menaranya tinggi seperti kastil kuno. Seperti yang kuduga, tak ada istana pasir lain yang menandinginya.
Kami menang.

Buat RJB, istana pasirku..

1 Comment

Filed under Uncategorized

One response to “Tuhan dan Istana Pasir

  1. mortyfox

    Terkadang kita terlalu sombong sampai tak mau meminta tolong pada TuhanNya :”

    Bagus!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s